Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Lasik Xtra pertama kali diperkenalkan di London Eye Hospital oleh dokter bedah mata Bobby Qureshi. Bobby yang juga diklaim sebagai dokter pertama yang melaksanakan prosedur ini di Inggris pun percaya prosedur ini dapat tersedia di penjuru negeri dalam beberapa tahun ke depan karena Lasik Xtra diklaim sebagai 'bedah laser mata paling aman yang ada sekarang ini'.
"Bahkan prosedur ini merupakan kemajuan terbesar pada bedah laser mata dalam 20 tahun terakhir untuk menurunkan risiko akibat bedah laser; untuk itu setiap orang harusnya memperoleh prosedur ini alih-alih menggunakan pengobatan laser standar," tandas Bobby seperti dilansir Daily Mail, Rabu (17/7/2013).
"Prosedur ini juga memastikan bahwa risiko munculnya komplikasi serius dari bedah laser benar-benar berkurang sampai nol," tambahnya.
Selama ini pasien operasi Lasik atau Laser-Assisted In-Situ Keratomileusis diketahui berisiko mengalami tiga komplikasi sering, diantaranya: ectasia kornea (dimana kornea yang melemah akibat dilaser menjadi tertekan dan membengkak, biasanya kondisi ini hanya dapat diatasi dengan cangkok kornea), regresi penglihatan dan epithelial ingrowth (sel-sel dari lapisan permukaan mata mulai tumbuh di bawah flap kornea).
Namun menurut laporan, belum pernah ada pasien yang menjalani Lasik Xtra kemudian diketahui menderita salah satu dari ketiga komplikasi serius seperti yang dipaparkan sebelumnya.
Prosedur awalnya sama dengan Lasik standar, bedanya pada Lasik Xtra setelah menjalani bedah, di permukaan kornea pasien dibuat flap kecil dengan sebuah perangkat laser femtosecond untuk kemudian diberi tetes mata anestesi.
Setelah itu, mata pasien akan dipapari laser untuk menghilangkan sejumlah jaringan kornea sehingga membentuk jaringan itu kembali sebelum flapnya diganti. Prosedur ini menghabiskan waktu sebanyak 10 menit untuk setiap mata.
Tapi Lasik Xtra yang bekerja dengan cara menyilangkan serat-serat di dalam kornea sehingga membuatnya menjadi lebih tebal dan lebih tangguh. Lagipula obat tetes mata yang diberikan pasca operasi tadi mengandung riboflavin atau vitamin B2 yang telah dimodifikasi dan diaplikasikan setelah menjalani bedah laser, untuk kemudian 'diaktifkan' dengan sinar UV.
Bobby pun mengklaim tanpa pengobatan ini, pasien berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi, termasuk diprediksi membutuhkan pengobatan lain di masa depan untuk mengatasi kondisi korneanya yang melemah.
Prosedur ini sendiri telah dipergunakan secara luas di penjuru dunia dan berhasil mengobati 50.000 pasien di Jepang saja. Untuk kawasan Eropa, prosedur ini hanya dapat diperoleh di Inggris.
(vit/vta)
Hasil studi yang dipaparkan dalam konferensi The International Investigative Dermatology di Edinburgh, Jumat, menyebutkan bahwa sinar UV melepaskan suatu senyawa yang menurunkan tekanan darah.
Produksi senyawa penurun tekanan darah, nitrat oksida, terpisah dari produksi vitamin D dalam tubuh, yang naik setelah paparan sinar matahari.
Dalam penelitian itu, ahli dermatologi mempelajari tekanan darah 24 relawan yang diberi paparan sinar UV dan lampu pemanas.
Dalam satu sesi, para relawan diberi paparan sinar UV dan panas lampu. Di sesi lain, sinar UV diblokir sehingga hanya panas lampu yang berdampak pada kulit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah menurun secara signifikan selama satu jam setelah paparan sinar UV tapi tidak setelah relawan terkena panas dari lampu. Sementara kadar Vitamin D tidak terpengaruh dalam kedua sesi.
"Kami menduga manfaat sinar matahari bagi kesehatan jantung akan lebih besar dibandingkan dengan risiko kanker kulit," kata dosen senior dermatologi di Edinburgh University, Dr Richard Weller.
"Pekerjaan yang sudah kami lakukan menyediakan mekanisme yang mungkin bisa menjelaskan ini, dan juga menjelaskan mengapa diet suplemen vitamin D saja tidak bisa mengimbangi kekurangan sinar matahari," tambahnya.
"Kami sekarang berencana melihat risiko relatif penyakit jantung dan kanker kulit pada orang yang menerima jumlah paparan sinar matahari yang berbeda. Jika ini menegaskan bahwa sinar matahari mengurangi tingkat kematian dari semua penyebab, kita perlu mempertimbangkan lagi saran tentang paparan sinar matahari," ujar dia.
Namun para peneliti mengatakan, lebih banyak studi lanjutan masih diperlukan untuk menentukan apakah sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali rekomendasi terkait paparan sinar matahari pada kulit.
Rokok hingga saat ini masih menjadi penyebab terbesar kanker mulut, hingga setengah dari jumlah perokok berkahir dengan meninggal akibat penyakit tersebut. Penelitian ini bisa menjadi peringatan bagi perokok.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang kebiasaan merokok dalam waktu sekitar 5 menit setelah bangun tidur memiliki risiko lebih tinggi terhadap efek negatif tembakau, seperti dikutip dari Female First, Sabtu (27/4/2013).
"Menghilangkan kebiasaan merokok di pagi hari bukanlah sesuatu yang mudah. Namun hasil penelitian ini telah menunjukkan apa efek berbahaya dari kebiasaan tersebut. Diharapkan ini bisa memicu perokok untuk segera berhenti melakukan kebiasaan ini," ujar Dr Nigel Carter OBE, direktur eksekutif British Dental Health Foundation.
Dr Carter menambahkan, saat ini kanker mulut telah menjadi masalah yang sangat nyata di Inggris. Jumlah orang yang meninggal akibat penyakit ini diklaim lebih banyak daripada jumlah orang yang meninggal akibat kecelakaan di jalan raya.
"Membiasakan diri dengan pola makan yang buruk dan munculnya Human papillomavirus (HPV) melalui seks oral, diketahui sebagai faktor risiko lain kanker mulut," lanjut Dr Carter.
Deteksi dini merupakan peran penting dalam perawatan kanker mulut, sehingga penting untuk diketahui tanda-tanda peringatan munculnya penyakit ini.
Gejala tersebut antara lain munculnya sariawan yang tak kunjung sembuh dalam waktu 3 minggu, bercak merah dan putih di mulut, muncul benjolan yang tidak biasa, serta ada pembengkakan di mulut. Disarankan untuk tidak ragu dan segera periksa ke dokter jika muncul gejala tersebut.
Secara khusus peneliti menganalisis kandungan napas pasien yang disebut dengan volatile organic compounds (VOC). Dengan menganalisis VOC tersebut, peneliti mengaku sejauh ini metode yang mereka temuan ini mampu mendiagnosis risiko gagal jantung pada pasien yang baru saja diopname dengan akurasi mencapai 100 persen.
"Setiap individu memiliki 'jejak' napas yang berbeda antara satu orang dengan yang lain, tergantung pada apa yang terjadi pada tubuhnya. 'Jejak' itu dapat memberitahukan kepada kita segala aspek tentang pasien bersangkutan, termasuk apa saja yang memapari mereka dan penyakit apa yang mereka idap," terang ketua tim peneliti Dr. Raed Dweik dari department of pulmonary, allergy and critical care medicine, Respiratory Institute, Cleveland Clinic, AS.
"Itulah mengapa deteksi penyakit dengan analisis napas begitu menjanjikan karena metode ini bersifat non-intrusif sehingga tidak menimbulkan risiko apapun. Anda pun bisa melakukannya dimana saja, entah itu di klinik maupun rumah sakit," tambahnya.
Metode ini juga diklaim dapat memudahkan setiap orang untuk mengetahui risiko gagal jantungnya. Pasalnya, menurut US National Heart, Lung and Blood Institute, selama ini diagnosis gagal jantung harus mempertimbangkan sejumlah faktor seperti riwayat kesehatan, uji fisik agar tim dokter dapat mendengarkan detak jantung dan paru-paru pasien, termasuk pengecekan kaki dan perut pasien untuk memastikan apakah ada gejala penumpukan cairan pada organ-organ itu atau tidak.
Selain itu, tes darah dan penggunaan elektrokardiogram juga dapat memastikan risiko gagal jantung pada pasien.
Dalam studi ini, peneliti memastikan efektif tidaknya metode non-invasif untuk mengidentifikasi gagal jantung ini dengan cara mengumpulkan sampel napas 41 pasien yang telah diopname di Cleveland Clinic.
25 pasien diantaranya harus diopname di klinik karena didiagnosis dengan 'acute decompensated heart failure' sedangkan 16 pasien lainnya tidak menunjukkan gejala gagal jantung sama sekali namun pernah mengalami gangguan kardiovaskular lainnya.
Sampel napas tunggal partisipan diambil dari setiap pasien dalam kurun 24 jam setelah masuk klinik, begitu juga ke-36 pasien tambahan yang telah 'divonis' dengan acute decompensated heart failure sebagai perbandingan.
Dua jam setelah sampel napas dikumpulkan, keseluruhan sampel itu dianalisis menggunakan teknologi "mass spectrometry" untuk memindai kandungan molekuler dan kimiawi dari sampel-sampel tersebut. Sejumlah senyawa yang ditemukan dari sampel telah dipastikan berpotensi menjadi indikator gagal jantung.
Hasilnya menakjubkan, metode tes napas ini dapat mengidentifikasi seluruh pasien gagal jantung dengan tepat, bahkan cara ini benar-benar mampu membedakan antara kejadian gagal jantung dengan gangguan kardiovaskular lainnya.
"Teorinya, tes ini terbilang murah. Tapi tentu saja kami masih berada dalam proses sangat awal untuk menggali potensinya. Kami masih memerlukan banyak perbaikan agar metode ini dapat digunakan secara luas," tutupnya Dweik seperti dilansir dari health24, Jumat (29/3/2013).
(up/up)
Konsultasi Spesialis Saraf (SpS)
RS Wahidin Sudirohusodo Jl. Perintis Kemerdekaan
Konsultasi Spesialis Saraf (SpS)
RSD Dr. H. Koesnadi Bondowoso Tel:0332-421974
Para ilmuwan di Inggris membuktikan hal itu dalam sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Stroke. Penelitian yang dilakukan selama 20 tahun itu memperkuat hasil-hasil penelitian sebelumnya tentang manfaat serat dalam diet sehari-hari.
Temuan ini penting mengingat pada masa kini makin banyak orang makan sayur dan buah. Mudah dan praktisnya mengakses junk food atau makanan sampah yang nutrisinya rendah membuat orang-orang tidak mau repot memasak sayur atau sekedar membeli buah.
Meski membuktikan bahwa tiap 7 gram serat bisa menurunkan risiko stroke hingga 7 persen, tentunya anjuran para ahli tidak cukup hanya 7 gram serat setiap hari. Kebutuhan serat pada manusia jauh lebih besar karena serat juga penting untuk sistem pencernaan.
"Total asupan serat dalam diet harus mencapai 25-30 gram sehari dari makanan, tapi rata-rata orang Amerika Serikat hanya memenuhi setengah dari jumlah tersebut," ungkap Victoria Burley dari University of Leeds yang melakukan penelitian itu seperti dikutip dari Healthday, Sabtu (30/3/2013).
Anjuran tersebut tidak sulit untuk dipebuhi mengingat sumber serat dalam makanan sehari-hari cukup beragam dan mudah didapat. Sebagai contoh, avocado mengandung 13 gram serat tiap buah, kacang-kacangan mengandung 16 gram serat tiap cup dan bahkan popcorn mengandung 4 gram serat tiap 3 cup.
Dalam kaitannya dengan stroke, serat bisa membantu hati dalam mengendalikan kadar kolesterol dalam darah. Serat-serat yang tidak larut juga akan menghambat penyerapan sejumlah sari makanan, termasuk kolesterol sehingga kolesterol yang masuk ke dalam tubuh bisa lebih dibatasi.
(up/vit)
Konsultasi Spesialis Saraf (SpS)
Konsultasi Spesialis Saraf (SpS)
RSUD Kota Batam Jl. Brigjen Katamso Batu Aji, Batam - Kepri Tel:0778-391704
Studi terbaru yang diulas dalam jurnal Neurology, menunjukkan bagaimana coklat mempengaruhi pembuluh darah.
Para peneliti di Glasgow University mengukur kecepatan darah mengalir melalui arteri dalam otak besar, saat subjek penelitian sedang mengkonsumsi cokelat.
Mereka menemukan bahwa cokelat memiliki efek pada kadar karbondioksida yang mempengaruhi pembuluh darah, sehingga dapat meningkatkan aliran darah dan berdampak pada sel-sel otak.
Profesor Matthew Walters, yang memimpin penelitian, mengatakan kepada DailyMail, "konsumsi cokelat dalam jumlah normal dapat melancarkan aliran darah." "Data kami konsisten menunjukkan efek langsung dari cokelat di pembuluh darah otak," kata Walters.
"Ini menimbulkan kemungkinan bahwa ada efek langsung dari beberapa komponen coklat pada pembuluh darah, dan menjadi masuk akal karena molekul flavonoid yang terkandung dalam coklat," Flavonoid yang ditemukan dalam berbagai produk kakao, merupakan antioksidan yang berkontribusi terhadap pencegahan penyakit jantung.
Namun, cokelat olahan juga memiliki kadar gula dan lemak yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan obesitas, yang merupakan faktor risiko pasti untuk penyakit stroke.
Mereka mengukur kecepatan aliran darah melewati arteri terbesar dalam otak ketika subjek sedang mengonsumsi cokelat sambil berbaring.
Berdasarkan penelitian mereka, cokelat berpengaruh pada tingkat karbon dioksida. Tingkat karbon dioksida itu lah yang berpengaruh pada pembuluh darah, memperbaiki aliran darah, yang kemudian berpengaruh pada sel otak.
"Konsumsi sebatang cokelat ukuran normal berkaitan dengan kelenturan pembuluh darah," kata Profesor Matthew Walters, pemimpin penelitian, kepada Daily Mail.
Data yang mereka peroleh bersifat konsisten, cokelat berpengaruh pada pembuluh darah di otak.
"Kemungkinannya meningkat bahwa ada efek langsung dari komponen tertentu di cokelat terhadap pembuluh darah. Ini masuk akal karena cokelat mengandung molekul flavonoid," tambahnya.
Menurutnya, penurunan risiko stroke dapat terjadi karena cokelat mengganti pola perilaku pembuluh darah di otak.
Keuntungan lainnya dari flavonoid, yang ditemukan pada tanaman cokelat, adalah sebagai antioksidan yang berperan dalam mencegah penyakit jantung.
Meski begitu, cokelat batangan mengandung kadar gula dan lemak yang tinggi hingga dapat menyebabkan obesitas dan juga faktor penyebab stroke.
Selain bermanfaat bagi kesehatan, teh hijau juga bisa meningkatkan kerja otak, terutama pada kaum pria. (www.howtopreparegreentea.org)Jakarta (ANTARA News) - Teh hijau dan kopi bisa menurunkan risiko terkena stroke, apalagi jika keduanya menjadi bagian dari program diet seseorang, demikian temuan baru yang disiarkan Journal of the American Heart Association. "Ini adalah penelitian skala besar pertama untuk menjelaskan kombinasi efek teh hijau dan kopi terhadap risiko stroke," kata Yoshihiro Kokubo yang mengepalai penelitian untuk Pusat Otak dan Kardivaskuler Nasional, Jepang.
"Anda bisa menciptakan perubahan kecil namun positif pada gaya hidup untuk membantu menurunkan risiko stroke dengan mengimbuhkan minum teh hijau setiap hari pada program diet Anda," katanya seperti dikutip Science Daily.
Para peneliti menanyai 83.269 orang dewasa Jepang mengenai kebiasaan mereka meminum teh hijau dan kopi, selama rata-rata 13 tahun. Hasilnya, mereka mendapati fakta bahwa semakin sering orang meminum teh hijau dan kopi, semakin rendah risiko orang itu untuk terkena stroke.
Orang yang meminum setidaknya secangkir kopi setiap hari mampu menurunkan risiko stroke sampai 20 persen dibandingkan mereka yang jarang meminum kopi.
Sedangkan orang yang meminum dua sampai tiga cangkir teh hijau setiap hari bisa menurunkan risiko stroke sampai 14 persen, bahkan yang meminum empat cangkir sehari lebih turun lagi menjadi 20 persen, dibandingkan dengan orang yang jarang meminum teh hijau.
Orang yang meminum setidaknya satu sangkir kopi atau dua cangkir teh hijau setiap hari bisa menurunkan risiko terkena pendarahan dalam otak (Intracerebral hemorrhage) sampai 32 persen, dibandingkan mereka yang jarang meminum keduanya.
Pendarahan pada otak terjadi manakala aliran darah pecah, kemudian memasuki otak. Sekitar 13 persen stroke adalah stroke hemoragik (akibat pendarahan dalam otak), demikian Science Daily.
Orang yang minum sedikitnya secangkir kopi dalam sehari, memiliki risiko terkena stroke 20 persen lebih rendah dibanding mereka yang jarang minum.Washington (ANTARA News) - Teh hijau dan kopi mungkin bisa membantu mengurangi risiko terkena stroke terutama jika kedua jenis minuman itu dikonsumsi secara tetap, kata hasil penelitian yang disiarkan pada jurnal asosiasi jantung Amerika, Kamis.
"Ini merupakan penelitian berskala besar pertama yang mempelajari pengaruh gabungan antara teh hijau dan kopi pada risiko stroke," kata Yoshihiro Kokubo, kepala tim peneliti pada Pusat Kardiovaskular dan Saraf Nasional, Jepang.
"Anda bisa membuat sedikit perubahan gaya hidup dengan memasukkan teh hijau sebagai minuman sehari-hari guna mengurangi risiko stroke."
Para peneliti menganalisa kebiasaan minum teh hijau dan kopi pada 83.269 orang dewasa di Jepang dan memantau mereka sedikitnya selama 13 tahun. Mereka menemukan bahwa semakin banyak orang-orang itu minum teh hijau atau kopi, maka semakin rendah risiko terserang stroke.
Orang yang minum sedikitnya secangkir kopi dalam sehari, memiliki risiko terkena stroke 20 persen lebih rendah dibanding mereka yang jarang minum. Orang yang minum sedikitnya dua-tiga cangkir teh hijau dalam sehari mendapat 14 persen lebih rendah risikonya terkena serangan stroke dan orang-orang yang minum sedikitnya empat cangkir mengalami 20 persen lebih rendah terkena stroke dibanding mereka yang jarang minum.
Mereka yang sedikitnya minum dua cangkir kopi atau dua cangkir teh hijau dalam sehari mengurangi 32 persen risiko terkena perdarahan di dalam otak dibandingkan mereka yang jarang minum kedua jenis minuman tersebut.
Perdarahan di dalam otak terjadi ketika pembuluh darah di dalam otak meledak sehingga menyebabkan perdarahan di dalam otak, dan 13 persen serangan stroke terjadi akibat perdarahan tersebut.
Peserta yang dipantau dalam penelitian ini berusia antara 45-74 tahun, dengan gender yang hampir sama, juga bebas dari penyakit kanker dan jantung.
Selama 13 tahun masa pemantauan, peneliti mengulas catatan kesehatan peserta yang dikeluarkan oleh rumah sakit, maupun catatan penyebab kematian, mengumpulkan data sakit jantung dan stroke.
Temuan tersebut diselaraskan dengan data usia, jenis kelamin, faktor gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, berat tubuh, pola makan dan kegiatan olahraga.
Teh dan kopi merupakan minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air, sehingga diduga hasil penelitian ini akan sama bila diterapkan di Amerika dn negara-negara lain, kata para peneliti.
Belum jelas bagaimana teh hijau bisa mempengaruhi risiko stroke. Kandungan katekin di dalam teh mungkin bisa menjadi pelindung, kata mereka.
Katekin mengandung anti-oksidan, anti-pembengkanan, meningkatkan kemampuan plasma anti-oksidan serta pengaruh anti-trombogenik.
(M007)