Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Showing posts with label Menkes. Show all posts
Showing posts with label Menkes. Show all posts

Friday, August 23, 2013

Menkes luncurkan vaksin imunisasi Pentavalen

Karawang, Jawa Barat (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi di Desa Karang Pawitan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, meresmikan penggunaan vaksin Pentavalen untuk imunisasi pada balita.

"Tidak boleh ada satu anak yang sakit, cacat, meninggal karena sakit yang bisa dicegah dengan imunisasi," kata Menkes mengingatkan dalam sambutannya.


Vaksin Pentavalen merupakan pengembangan dari vaksin Tetravalen (DPT-HB) dengan menambahkan vaksin Haemophilus influenzae type b (Hib) yang diberikan dalam satu suntikan.


"Kini kelima antigen diberikan dalam satu suntikan sehingga menjadi lebih efisien, tidak menambah jumlah suntikan pada anak sehingga memberikan kenyamanan bagi bayi yang mendapat imunisasi beserta ibunya," kata Menkes.


Dengan digunakannya vaksin pentavalen (DPT-HB-Hib) bersama vaksin campak, polio dan BCG, maka program imunisasi yang semula untuk pencegahan tujuh penyakit menular (difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, tuberculosis pada bayi, polio dan campak) bertambah menjadi delapan penyakit menular melalui penambahan antigen Hib untuk mencegah pneumonia dan meningitis pada anak.


Vaksin Haemophilus influenza tipe B (Hib) berisi antigen yang dapat mencegah penyakit radang otak dan radang paru yang merupakan penyebab 17,2 persen kematian pada bayi.


Vaksin Hib inilah yang akan diintegrasikan pada vaksin DPT-HB yang telah lebih dulu dikenal masyarakat.


Vaksin hepatitis B (HB) bermanfaat untuk mencegah terjadinya kerusakan hati (kanker hati) sedangkan vaksin DPT terdiri atas tiga antigen yang dapat melindungi bayi/balita dari penyakit difteri, pertusis dan tetanus.


Dalam program imunisasi dasar lengkap (IDL) bayi yang baru lahir hingga berusia tujuh hari langsung mendapatkan imunisasi hepatitis B.


Saat bayi berusia satu bulan maka ditambahkan imunisasi polio dan BCG.


Kemudian berturut-turut pada usia 2, 3 dan 4 bulan bayi mendapatkan lagi vaksin polio bersamaan dengan pemberian vaksin pentavalen dan terakhir pada saat bayi berusia 9 bulan mendapatkan imunisasi campak.


"Jadi, antara usia 0 hari hingga genap 1 tahun, bayi setidaknya dibawa lima kali ke fasilitas kesehatan untuk melengkapi imunisasinya," kata Menkes.




Sumber Antara




Alat Laboratorium Bandung

Wednesday, May 15, 2013

Menkes: puskesmas harus dekat dengan remaja

Ambon (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengingatkan pentingnya dibangun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) ramah remaja yang sangat strategis dalam menghindarkan mereka dari berbagai persoalan.

"Pada masa remaja, anak-anak kita itu menghadapi berbagai tantangan yang luar biasa, seperti narkoba dan godaan seks," katanya di Ambon, Senin.

Bila ketahanan mental serta iman para remaja ini tidak kuat, maka mereka akan terjerumus atau terbawa ke perilaku seks menyimpang, narkoba atau penggunaan napza dan berakibat pada kehamilan dan persalinan yang begitu muda usianya.

Perilaku negatif lainnya yang dialami remaja adalah menjadi perokok aktif, katanya.

Karena itu, katanya, dinas kesehatan bersama Pemerintah Provinsi Maluku diharapkan bisa mengembangkan sarana puskesmas ramah remaja pada berbagai daerah untuk membina anak-anak sejak usia muda tentang bahaya narkotika dan seks bebas.

Menkes mengatakan, data Balai Litbang Kemenkes melaporkan pengeluaran rumah tangga untuk rokok pada beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Maluku mencapai 3,4 persen dibanding pengeluaran untuk biaya kesehatan yang hanya 1,2 persen.

"Jadi pengeluaran biaya untuk rokok lebih besar dan dampaknya akan memicu timbulnya penyakit tidak menular seperti kanker mulut, kanker tenggorokan dan paru-paru, menyebabkan hipertensi dan serangan jantung," kata Menkes.

Tapi kalau seorang remaja tidak merokok dan udara dalam rumahnya bebas rokok maka paru-parunya akan berkembang dengan baik.

Menkes Hafsiah Mboi melakukan kunjungan kerja dua hari ke Maluku untuk mencanangkan pos pembinaan terpadu penyakit menular (bindu PTM), meninjau proyek pembangunan Fakultas Kedokteran Unpatti dan membuka rapat kerja kesehatan daerah Provinsi Maluku.



Sumber Antara



Alat Laboratorium Bandung

Tuesday, May 14, 2013

Menkes: terjadi pergeseran jenis penyakit di Indonesia

 Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi (ANTARA/Basri Marzuki)


Memang negara kita temasuk Provinsi Maluku mengalami suatu perubahan, di mana 30 tahun lalu adalah masalah anak-anak kurang gizi, diare, dan batuk pilek yang merupakan jenis penyakit infeksi,"
Ambon (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan saat ini telah terjadi pergeseran berbagai jenis penyakit yang diderita masyarakat Indonesia.

"Memang negara kita temasuk Provinsi Maluku mengalami suatu perubahan, di mana 30 tahun lalu adalah masalah anak-anak kurang gizi, diare, dan batuk pilek yang merupakan jenis penyakit infeksi," kata Menkes Nafsiah di Ambon, Minggu.


Penegasan Menkes disampaikan saat mencanangkan pos pembinaan terpadu penyakit menular (Pos Bindo PTM) di Puskesmas Negeri Hunuth-Durian Patah, Kecamatan Baguala.


Pencanangan posyandu terintegrasi dan pos pelayanan terpadu untuk penyakit tidak menular di Nania ini merupakan yang pertama di Maluku dan diharapkan dapat berkembang ke seluruh kabupaten/kota.


"Kami baru saja melakukan analisa terhadap situasi penyakit di Indonesia pada umumnya termasuk Maluku, di mana kita lihat ada pergeseran jadi untuk gizi memang masih ada kasusnya tapi sudah berkurang sama sekali dan bisa terlihat dari kasus kematian bayi menurun jauh," katanya.


Namun di lain pihak terjadi kegemukan atau kelebihan gizi dengan segala macam akibatnya, karena pola makan.


"Kasus-kasus penyakit infeksi saat ini sudah mengalami penurunan tapi muncul penyakit-penyakit yang disebut tidak menular karena gaya hidup, terutama hipertensi atau tekanan darah tinggi yang mengarah pada stroke dan serangan jantung," kata Menkes.


Selain itu masalah berat badan yang berlebihan mulai dari anak-anak yang berkembang hingga usia tua dan mencapai di atas 50 tahun mulai terserang diabetes, serangan jantung dan tekanan darah tinggi.


Jenis penyakit lainnya seperti kanker juga makin meningkat sehingga sekarang perlu melakukan upaya-upaya pencegahan, sebab semua penyakit ini sebagian besar bisa dicegah.


"Oleh karenanya saya menyatakan terimakasih dan apresiasi kepada tim penggerak PKK Kota Ambon karena makin mudah dan cepat kita mulai membentuk Pos Bindo PTM, makin banyak penyakit yang bisa dicegah sebab perilaku hidup bersih dan sehat mulai ditanamkan dari masa kanak-kanak," katanya.


Kadis Kesehatan Maluku, M. Pontoh menjelaskan, kunjungan kerja Menkes Hasfiah selama dua hari ke Maluku untuk mencanangkan Pos Bindo PTM, meninjau proyek pembangunan Fakultas Kedokteran Unpatti dan membuka rapat kerja kesehatan daerah Provinsi Maluku.
(D008/H-KWR/)




Sumber Antara




Alat Laboratorium Bandung

Wednesday, May 8, 2013

Menkes: Indonesia Butuh Banyak Kader Penerus Program Imunisasi

Menteri Kesehatan RI, dr Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH. (Foto: Ajeng/detikHealth)Jakarta, Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan sebagai bentuk pencegahan penyakit. Semua anak berhak mendapatkan pelayanan ini, tanpa diskriminasi dan membeda-bedakan. Karena jika tidak diimunisasi, banyak efek buruk yang bisa terjadi.

"Imunisasi terbukti sangat efektif untuk menurunkan angka kematian anak, angka kecacatan, dan penyakit lain," ujar Menteri Kesehatan RI, dr Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, dalam acara seminar 'Imunisasi Melindungi Anak Indonesia dari Wabah Penyakit, Kecacatan, dan Kematian' yang diselenggarakan di Gedung Prof. dr. Sujudi, Kementerian Kesehatan, Jl Rasuna Said, Jakarta, Sabtu (27/4/2013).


Acara yang diselenggarakan dalam rangka puncak acara Pekan Imunisasi Dunia 2013 ini mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk memahami pentingnya imunisasi agar tidak ragu lagi untuk melakukan imunisasi.


Diakui oleh Menteri Kesehatan, kader-kader di Indonesia saat ini sudah sangat baik dalam memberikan pelayanan imunisasi, khususnya pada anak-anak.


Namun, sebagian besar kader ini merupakan anggota lama yang sudah tidak muda lagi. Sehingga, dr Nafsiah menghimbau dan mengajak generasi muda untuk mau peduli terhadap pelayanan kesehatan.


"Program imunisasi sudah berjalan selama bertahun-tahun, begitu juga ke depannya. Indonesia butuh lebih banyak penerus, agar program ini bisa berjalan dengan berkesinambungan," ujar dr Nafsiah.


Angka kematian bayi pada tahun 1997 adalah 46 per 1000 kelahiran, sedangkan pada tahun 2012 setelah diadakan program imunisasi, angka kematian bayi menurun hingga 32 per 1000.


Adanya perubahan ini membuat masyarakat berbagai generasi diharapkan mau memberi perhatian lebih banyak agar program imunisasi tidak berhenti.




Sumber Detik




Alat Kesehatan Bandung

Thursday, May 2, 2013

Menkes minta daerah realisasikan anggaran kesehatan

 Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi (ANTARA/Basri Marzuki)


Saat ini penanggulangan HIV/AIDS sudah terintegrasi dalam MDGs, termasuk dinas kesehatan dalam bagian pencegahan, penanggulangan dan pengobatan, karena itu kepala daerah dapat menganggarkan di APBD sebesar 10 persen untuk kesehatan,"
Medan (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi meminta kepala daerah segera merealisasikan anggaran untuk kesehatan sebesar 10 persen dari APBD guna meningkatkan pelayanan kesehatan demi pencapaian Millennium Development Goals (MDGs).

"Saat ini penanggulangan HIV/AIDS sudah terintegrasi dalam MDGs, termasuk dinas kesehatan dalam bagian pencegahan, penanggulangan dan pengobatan, karena itu kepala daerah dapat menganggarkan di APBD sebesar 10 persen untuk kesehatan," katanya di Medan, Jumat.


Dalam kesempatan itu, ia juga meminta dinkes di daerah meningkatkan pelayanan kesehatan untuk pencapaian MDGs. Ia juga meminta pemerintah daerah untuk fokus meningkatkan persentase pemberian ASI ekslusif dan menanggulangi penularan AIDS.


Ia mengatakan angka kasus HIV/AIDS dewasa ini cenderung terus mengalami peningkatan, termasuk di Sumatera Utara, karena itu ia berharap semua pihak untuk terus meningkatkan dan menggalakkan upaya preventif promotif agar jangan berperilaku yang berisiko.


"Para pemangku kebijakan terkait harus meningkatkan kerja sama penanganan persoalan AIDS di Sumut. Di Sumut sampai sekarang baru ada 17 kabupaten/kota yang memiliki pelayanan HIV/AIDS, ke depan kalau bisa ini harus ditambah lagi dan tentunya harus mengalokasikan anggaran untuk itu," katanya.


Dalam kesempatan itu, ia juga membahas berbagai angka indikator kesehatan di Sumut dan ia secara khusus mengingatkan beberapa indikator yang dianggap perlu mendapat perhatian, di antaranya persentase pemberian ASI eksklusif.


"Pemberian ASI ekskulusif harus mencapai 100 persen atau paling tidak sudah mencapai 80 persen," katanya


Sementara itu, Project Manajer Proyek Global Fund Dinas Kesehatan Sumut Andi Ilham Lubis menyampaikan gambaran kasus HIV/AIDS di provinsi itu terus meningkat dari tahun ke tahun.


Bahkan melalui data yang diperoleh Dinas Kesehatan Sumatera Utara sejak tahun 1994 hingga Maret 2013, jumlah pengidap AIDS mencapai 2.580 orang dan jumlah penderita HIV (+) mencapai 1.417 orang, sehingga total penderita ada sebanyak 3997.


Sampai saat ini kasus HIV/AIDS di Sumut masih cenderung mengalami peningkatan, bahkan sampai Maret 2013, pihaknya menemukan sebanyak 600 kasus di Sumut, namun peningkatan tersebut dikatakan bukan karena tidak adanya penanganan dari pihak Dinkes Sumut.


"Meningkatnya kasus ini bukan karena tidak ada penanganan dari kami. Bahkan sampai saat ini, kami terus berupaya untuk menemukan kasusnya, karena penyakit ini perjalanannya lama sehingga orang-orang HIV itu harus segera di temukan untuk menjalani konseling," katanya. (*)




Sumber Antara




Alat Laboratorium Bandung

Monday, April 29, 2013

Menkes: lima penyakit kuras anggaran Jamkesmas

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi (ANTARA/Dhoni Setiawan)


Hanya 17 persen digunakan untuk pengobatan lainnya,"
Makassar (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Dr Nafsiah Mboi menyebutkan ada lima jenis penyakit tidak menular yang cukup menguras anggaran Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas.

"Kelima penyakit tersebut meliputi gagal ginjal, penyakit paru, kanker, stroke dan jantung," sebutnya saat membuka Rapat Kerja Kesehatan Nasional 2013 Regional Timur di Hotel Grand Clarion, Makassar, Senin malam.


Menurutnya, alokasi anggaran untuk Jamkesmas yang digelontorkan pemerintah pusat ke daerah sebanyak Rp34,5 triliun, 83 persennya dihabiskan untuk penanganan lima jenis penyakit tersebut.


"Hanya 17 persen digunakan untuk pengobatan lainnya," tutur wanita kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan ini.


Menkes memaparkan, kondisi yang paling banyak terjadi pada penyakit paru, yang telah ditangani secara serius. Penyakit paru atau TB, kata dia, lebih banyak diakibatkan oleh para perokok aktif maupun pasif.


"Untuk itu diharapkan semua daerah melakukan perlawanan dengan membuat perda tentang rokok. Sebaiknya bungkus rokok dikampanyekan bergambar tentang dampak yang ditimbulkan serta ada peringatan pemerintah yang dengan jelas dicantumkan," tuturnya.


Sebelumnya, Indonesia telah mendapatkan Achievement Award dari Global Health USAID sebagai negara yang paling berhasil dalam mengatasi permasalahan Tuberkulosis (TB).


Tidak hanya itu, penghargaan lainnya pada program Pengendalian TB di Indonesia juga telah mendapat apresiasi dari internasional. Penghargaan Champion Award for Exceptional Work in the Fight Againts TB.


Pencapaian indikator target Millenium Development Goals (MDGs) untuk TB di Indonesia cukup memuaskan dan diperkirakan semua indikator TB akan dicapai sebelum waktu yang ditentukan pada tahun 2015. (KR-DF/T007)




Sumber Antara




Alat Laboratorium Bandung

Thursday, April 18, 2013

Menkes buka pertemuan asosiasi kedokteran dunia

 
Pertemuan itu mengangkat beberapa isu penting
Nusa Dua (ANTARA News) - Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi membuka pertemuan ke-194 Asosiasi Kedokteran Dunia (World Medical Association/WMA) yang dihadiri ratusan delegasi dari 35 negara di Nusa Dua, Bali, Kamis.

Pertemuan yang difasilitasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu juga dihadiri pengurus Organisasi Internasional Kesehatan Wanita (MWIA) dan Organisasi Dunia Dokter Keluarga (WONCA) sebagai peninjau.


"Pertemuan itu mengangkat beberapa isu penting yang dibahas dalam WMA. Oleh karena itu menjadi perhatian terutama kita para dokter di seluruh dunia," kata Menkes usai membuka pertemuan tersebut.


Isu kesehatan dunia yang menjadi topik bahasan pada pertemuan selama dua hari itu di antaranya mengenai sosio-medis, kode etik kesehatan, anggaran dan perencanaan, serta sidang Dewan WMA.


Salah satu topik yang dibahasa dalam komite sosio-medis tersebut menyangkut kesehatan publik, termasuk HIV-AIDS.


Nafsiah menyatakan bahwa untuk obat pengendali infeksi HIV, yakni antiretroviral (ARV), Indonesia telah mampu memproduksi obat tersebut dan diberikan gratis sejak tahun 2008.


Akhir tahun 2013, ARV itu nantinya akan dikombinasikan dari tiga pil ARV menjadi satu kaplsul yang disebut "fixed-dose atau atripla" yang diminum sekali per hari dengan efek samping jauh lebih kecil. "Kita nanti akan mulai ke beberapa provinsi dimana terbanyak ada penderita HIV AIDS," ujarnya.
(KR-MDE)




Sumber Antara




Alat Laboratorium Bandung

Sunday, April 7, 2013

Menkes risaukan naiknya angka kematian ibu melahirkan

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi (ANTARA)

Ini cukup mengkhawatirkan. Saya ingatkan petugas kesehatan, bayangkan itu ibu kita yang meninggal saat melahirkan.
Balikpapan (ANTARA News) - Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi merisaukan naiknya angka kematian ibu melahirkan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang mencapai 106 kematian per 1.000 ibu melahirkan pada awal 2013.

"Kami risau melihat angka itu," cetus Menteri Mboi saat meresmikan bangunan baru Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo, Jalan MT Haryono, Balikpapan, Jumat (22/3).

Angka itu meningkat dari 90 kematian per 1.000 ibu melahirkan pada 2010. Angka tersebut juga menjadikan Kaltim ada di peringkat ke-5 tertinggi kematian ibu melahirkan secara nasional.

"Ini cukup mengkhawatirkan. Saya ingatkan petugas kesehatan, bayangkan itu ibu kita yang meninggal saat melahirkan," lanjutnya.

Kementerian Kesehatan menargetkan angka kematian ibu melahirkan itu tidak lebih dari 2,1 per 100 kelahiran di 2014 mendatang. Saat ini rata-rata nasional mencapai 2,6 kematian per 100 kelahiran.

Karena itu, menurut Menteri Kesehatan, walaupun Pemerintah Provinsi Kaltim memberikan anggaran yang besar, memiliki gedung rumah sakit yang bagus dengan cukup fasilitas namun bila para tenaga kesehatan belum dapat menurunkan angka kematian ibu melahirkan itu berarti belum memenuhi kewajiban sebagai tenaga kesehatan yang baik.

Menkes Mboi juga menjelaskan penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan tersebut, yaitu usia ibu saat hamil masih terlalu muda, yaitu masih belasan tahun, lalu ibu yang hamil pada usia di atas 30 tahun, kemudian ibu melahirkan terlalu rapat (biasanya dua kelahiran dalam jarak 12 bulan atau setahun).

Oleh sebab itu, katanya, program Keluarga Berencana kembali menjadi hal penting. Suami dan istri bersepakat mengatur jarak kelahiran anak-anak mereka agar semuanya optimal dan selamat.



Sumber Antara



Alat Laboratorium Bandung