Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Seperti dilansir kantor berita Xinhua, para peneliti di Universitas Yale mengamati penggunaan MRI payudara dan rawat bedah pada 72.461 perempuan Amerika berusia 67 sampai 94 tahun yang didiagnosa punya kanker payudara antara tahun 2000 dan 2009.
Selama masa studi, para peneliti menemukan "peningkatan cukup besar" pada penggunaan MRI payudara pra-operasi. Penggunaan MRI pada pasien yang tahun 2000 hanya satu persen meningkat menjadi 25 persen pada 2009.
Para peneliti juga menemukan bahwa perempuan yang menjalani MRI cenderung menjalani perawatan bedah yang lebih agresif.
Di antara perempuan yang menjalani mastektomi (operasi pengangkatan payudara), sebanyak 12,5 persen perempuan yang mendapat MRI menjalani mastektomi bilateral dan hanya 4,1 persen dari mereka yang tidak miliki MRI yang menjalani mastektomi bilateral.
Perempuan yang menjalani MRI juga cenderung menjalani prosedur yang disebut mastektomi contralateral prophylactic, di mana kedua payudara diangkat ketika kanker hanya ditemukan pada satu payudara.
Di antara perempuan yang menjalani masektomi, sebanyak 6,9 persen yang melakukan MRI menjalani masektomi contralateral prophylactic sementara mereka yang tidak melakukan MRI hanya 1,8 persen yang menjalani prosedur itu.
Para peneliti mengatakan data tersebut "perlu diperhatikan" karena manfaat jangka panjang terkait mastektomi bilateral pada perempuan lanjut usia dengan kanker payudara belum jelas.
"Belum ada uji klinis terkontrol acak yang menunjukkan hasil lebih baik pada perempuan yang menjalani MRI payudara pra-operasi pada usia berapa pun," kata peneliti di Yale School of Medicine, Brigid Killelea, penulis utama studi itu.
Ia menambahkan terapi untuk mempertahankan payudara, jika layak, tetap merupakan pendekatan yang lebih disukai bagi perempuan dengan kanker payudara tahap awal.
Lasik Xtra pertama kali diperkenalkan di London Eye Hospital oleh dokter bedah mata Bobby Qureshi. Bobby yang juga diklaim sebagai dokter pertama yang melaksanakan prosedur ini di Inggris pun percaya prosedur ini dapat tersedia di penjuru negeri dalam beberapa tahun ke depan karena Lasik Xtra diklaim sebagai 'bedah laser mata paling aman yang ada sekarang ini'.
"Bahkan prosedur ini merupakan kemajuan terbesar pada bedah laser mata dalam 20 tahun terakhir untuk menurunkan risiko akibat bedah laser; untuk itu setiap orang harusnya memperoleh prosedur ini alih-alih menggunakan pengobatan laser standar," tandas Bobby seperti dilansir Daily Mail, Rabu (17/7/2013).
"Prosedur ini juga memastikan bahwa risiko munculnya komplikasi serius dari bedah laser benar-benar berkurang sampai nol," tambahnya.
Selama ini pasien operasi Lasik atau Laser-Assisted In-Situ Keratomileusis diketahui berisiko mengalami tiga komplikasi sering, diantaranya: ectasia kornea (dimana kornea yang melemah akibat dilaser menjadi tertekan dan membengkak, biasanya kondisi ini hanya dapat diatasi dengan cangkok kornea), regresi penglihatan dan epithelial ingrowth (sel-sel dari lapisan permukaan mata mulai tumbuh di bawah flap kornea).
Namun menurut laporan, belum pernah ada pasien yang menjalani Lasik Xtra kemudian diketahui menderita salah satu dari ketiga komplikasi serius seperti yang dipaparkan sebelumnya.
Prosedur awalnya sama dengan Lasik standar, bedanya pada Lasik Xtra setelah menjalani bedah, di permukaan kornea pasien dibuat flap kecil dengan sebuah perangkat laser femtosecond untuk kemudian diberi tetes mata anestesi.
Setelah itu, mata pasien akan dipapari laser untuk menghilangkan sejumlah jaringan kornea sehingga membentuk jaringan itu kembali sebelum flapnya diganti. Prosedur ini menghabiskan waktu sebanyak 10 menit untuk setiap mata.
Tapi Lasik Xtra yang bekerja dengan cara menyilangkan serat-serat di dalam kornea sehingga membuatnya menjadi lebih tebal dan lebih tangguh. Lagipula obat tetes mata yang diberikan pasca operasi tadi mengandung riboflavin atau vitamin B2 yang telah dimodifikasi dan diaplikasikan setelah menjalani bedah laser, untuk kemudian 'diaktifkan' dengan sinar UV.
Bobby pun mengklaim tanpa pengobatan ini, pasien berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi, termasuk diprediksi membutuhkan pengobatan lain di masa depan untuk mengatasi kondisi korneanya yang melemah.
Prosedur ini sendiri telah dipergunakan secara luas di penjuru dunia dan berhasil mengobati 50.000 pasien di Jepang saja. Untuk kawasan Eropa, prosedur ini hanya dapat diperoleh di Inggris.
(vit/vta)