Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Menyajikan informasi akurat dan terkini penyedia alat kesehatan di Bandung Jawa Barat
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami di 081321161101 untuk informasi lanjut. email: alkesritel@yahoo.com. website: supplyalkes.blogspot.com.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Kegiatan ini dilakukan untuk menghindari berbagai macam penyebaran infeksi seperti kutil dan jamur kuku. Tapi, sering tidak disadari bahwa manikur juga berisiko pada infeksi dan masalah lain yang membahayakan kesehatan.
Seperti dikutip dari Medindia, Selasa (16/7/2013), terkadang saat manikur, lem akrilik digunakan untuk memperbaiki letak kuku palsu atau sekadar digunakan sebagai pelapis kuku. Lem ini bisa menyebabkan alergi yang mengiritasi tangan dan mata.
Kuku juga bisa terinfeksi jamur yang disebut ragi. Kuku yang terinfeksi ragi bisa rusak, retak, atau bahkan hancur. Beberapa studi menunjukkan infeksi akibat perawatan di salon menjadi salah satu penyebab terjadinya hepatitis kronis. Hal ini dikarenakan peralatan yang digunakan untuk manikur sudah terinfeksi dan digunakan berkali-kali.
Untuk menghindari terjadinya infeksi dan risiko kesehatan akibat manikur, sebaiknya Anda memperhatikan beberapa hal sebelum melakukan perawatan tersebut. Pastikan Anda tidak memiliki infeksi kulit atau kuku yang bisa menyebar ke wanita lain.
Sebelum proses manikur dimulai, sebaiknya Anda ataupun petugas salon sudah mencuci tangan menggunakan pembersih yang mengandung 70 persen alkohol. Selain itu, sebaiknya Anda menolak ketika petugas salon menggunakan peralatan yang dibiarkan berada di tempat terbuka.
Akan lebih aman jika satu set peralatan yang akan digunakan baru dan masih tersegel rapi di dalam kemasannya. Peralatan seperti gunting harus dibersihkan dengan baik. Caranya dengan didesinfeksi dengan alkohol lalu disimpan di tempat steril. Sistem ini biasa disebut autoclaves.
Autoclaves bisa menghasilkan uap di bawah tekanan dan dapat menghancurkan kuman mikroskopis. Proses ini sama dengan yang digunakan rumah sakit untuk membersihkan alat-alat operasi. Ada alat manikur yang tidak bisa didesinfeksi seperti kikir kuku dan batu apung.
Ada baiknya Anda membawa peralatan itu dari rumah agar terjamin kesterilannya. Hal yang tak kalah penting yakni pastikan petugas salon menggunakan sarung tangan saat merawat kuku Anda. Hal ini akan menghindari infeksi jamur atau bakteri pada kultikula (kulit yang mengeras di sekitar kuku).
Bila terinfeksi, kultikula akan membengkak dan bernanah. Jika sudah begitu, dokter harus memotong kulit di sekitar kuku untuk menghilangkan infeksi. Hal lain yang perlu diperhatikan, jangan lakukan manikur jika terdapat masalah pada kulit seperti lecet atau luka.
Jangan pula lakukan manikur atau pedikur setidaknya 24 jam setelah mencukur bulu tangan atau kaki. Untuk mempercantik penampilan, gunakan cat kuku yang tidak beracun. Sebabnya, ada beberapa cat kuku yang mengandung bahan kimia beracun seperti dibutyl phthalates (DBP), toluene, formaldehyde dan oxybenzone, yang harus dihindari.
(vit/vit)
Setiap hari di tempat kami, ada lima hingga sepuluh pasien katarak dari kalangan kurang mampu yang datang untuk berobat. Mayoritas masalah anak-anak yang berobat di kami, di antaranya kelainan sejak lahir akibat infeksi dalam kandungan,"Surabaya (ANTARA News) - Pakar kesehatan mata dari Klinik Mata Anak Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM), dr Totok menyatakan infeksi dalam kandungan menjadi salah satu penyebab katarak pada sejumlah anak.
"Setiap hari di tempat kami, ada lima hingga sepuluh pasien katarak dari kalangan kurang mampu yang datang untuk berobat. Mayoritas masalah anak-anak yang berobat di kami, di antaranya kelainan sejak lahir akibat infeksi dalam kandungan," katanya pada kegiatan pemeriksaan mata dini yang digagas Standard Chartered Bank bagi siswa TK dan SD di SD Menur Mumpungan V Surabaya, Rabu.
Ia menjelaskan, penyebab katarak yang dialami pasien anak dan orang dewasa berbeda, yakni pada orang dewasa lebih banyak diakibatkan faktor usia, sementara untuk anak didominasi akibat infeksi dalam kandungan.
"Kami akan mendukung Pemprov Jawa Timur dalam mengatasi masalah kesehatan mata anak. Namun, selama ini program untuk menangani kasus katarak pada anak belum menjangkau secara keseluruhan," ujarnya.
Sementara itu, "CEO" Standard Chartered Indonesia, Tom Aaker menjelaskan, kegiatan yang dilakukannya itu merupakan inisiatif global guna mengurangi angka kebutaan.
"Program tersebut telah kami laksanakan sejak 2003. Kami mendonasikan dana sebesar 1 juta dolar AS untuk program kesehatan mata di Jawa Timur," ujarnya.
Dana tersebut, kata dia, digunakan untuk pelaksanaan pembuatan ruang pemeriksaan mata khusus anak dan pembagian kaca mata kepada pelajar maupun guru.
"Salah satu realisasi program kami itu berupa pemeriksaan mata bagi anak usia sekolah. Kami melihat pentingnya menjaga kesehatan mata khususnya bagi usia anak, karena banyak anak yang sudah mengalami gangguan bias sejak usia dini," ucapnya.
Dalam kegiatan yang digelar di SD Menur Mumpungan V Surabaya itu, sebanyak 350 pelajar dan 25 guru sekolah dasar serta 30 siswa TK menjalani pemeriksaan mata.
"Country Health Helen Keller Internasional" (HKI) di Indonesia, Steven Solat menjelaskan, pihaknya sudah beroperasi di 22 negara dengan fokus program pada persoalan kesehatan mata, terutama kalangan guru dan anak-anak.
"Hampir 30 persen anak di Jatim mengalami gangguan mata, khususnya kesalahan bias. Kondisi itu disebabkan gaya hidup dan kebiasaan menonton televisi sejak dini bagi anak-anak yang kini sulit dihindari, karena sebagian orang tua menilainya sebagai sebuah edukasi bagi anaknya," katanya.